Thursday, February 1, 2007

Valentine tiap hari???

Sebentar lagi Valentine. Hari yang sangat ditunggu oleh banyak sekali orang. Minggu – minggu ini, suasana valentine sudah sangat terasa. Kemanapun aku jalan, pasti bisa ngerasain dan nemuin pernak pernik berbau Valentine. Masuk ketoko apapun, pasti ada warna Valentine.

Toko coklat menawarkan segala macam coklat yang dikemas dengan cantiknya dengan ´bau´ Valentine. Toko pakaian memajang segala macam pakaian dengan warna-warna yang lembut, manis, dietalasenya. Toko parfum memberikan discount dengan pelayanan bungkus kado yang sangat apik dan membuat orang tertarik membelinya. Toko musik berkali-kali dalam sehari memasang lagu yang bertema cinta. Tapi toko yang aku paling suka masuki adalah toko buku. Terutama pada hari-hari special.

Disimak dari sejarahnya, menurut pandangan Teologis. Valentine’s Day sebenarnya lahir di kota Roma. Awalnya, ketika musim tanam tiba, diadakan perayaan untuk mengungkapkan ucapan syukur kepada Sang Pencipta. Secara budaya – komunitas masyarakat yang agraris itulah yang memulai hingga akhirnya kebiasaan tersebut menjadi awal dari ide di gelarnya festival. Ternyata perayaan tersebut, memperoleh sambutan yang cukup luas.

Sebenarnya komunitas yang terjadi pada waktu itu, lebih didasari pada ungkapan syukur pada alam semesta. Adapun simbol ucapan syukur itu ditujukan pada dewa-dewi yang telah memberinya kehidupan yang membahagiakan. Namun, nilai-nilai itu kemudian terkikis dengan berkembangnya agama Kristen.

Valentine adalah sebuah nama. Secara simbolis Valentine dijuluki sebagai ”Saint”. Dengan nuansa yang lebih agamis, untuk mengagungkan cinta dan mengungkapkannya tidak hanya pada kehidupan alam semesta saja. Melainkan, keberadaan manusia jauh lebih penting dan pada sang pencipta sajalah – mutlak hal itu ditujukan. Jadi bukan pada dewa- dewi.

Di kalangan bangsawan Eropa hari Valentine menjadi hal yang rutin dirayakan lewat pesta-pesta dan pemberian hadiah yang sifatnya pribadi. Penyair Inggris yang sangat terkenalpun Geoffrey Chaucher ikut simpati untuk menyatakan valentine sebagai hari cinta yang sejati yang dilambangkan sebagai burung merpati.
Baru pada di akhir abad 19, kartu Valentine dan bunga diproduksi secara massal dan menjadi simbol hari Kasih Sayang. Hingga sekarang, perkembangan itu semakin meluas dan tidak dapat dibendung oleh waktu dan perjalanan zaman. Kasih bagi kehidupan manusia adalah sumber yang harus dipancarkan. Tanpa Kasih manusia akan kehilangan segala akal dan budi. Secara kodrati dan imani, pada dasarnya manusia sangat membutuhkan Kasih Sayang sejak di kandungan ibunya. Hingga ia dewasa – pelukan Kasih Sayang tidak bisa dilepaskan dari kandungan ibu pertiwi, sehingga melahirkan komunitas baru yang dapat menghubungkan antar benua, negara, bangsa, suku, agama dan warna kulit serta perbedaan latar belakang budaya.

Manusia dilahirkan untuk mencipta dan memperbaharui kehidupan yang lama menjadi baru. Dan proses pencerahan itu, sangat bertalian erat dengan nilai-nilai teologis. Karena buah dari Kasih Sayang itu – meliputi batas empati kemanusiaan yang tidak dapat diukur dengan apapun. Hanya dengan getaran suara hati nurani, nilai persahabatan itu dapat terwujud dan dinyatakan. Mewakili akan hal itu, bahasa cinta mempunyai kandungan kasih yang sangat dalam.

Di tanah air, perayaan Valentine’s Day mengundang banyak keraguan di kalangan masyarakat. Keraguan itu dikarenakan Valentine datangnya dari negara asing. Sementara, perkembangan tehnologi melesat begitu jauh dan meluncur ke depan bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya.. Sedangkan batasan tembok transformasi budaya sangat tipis dan bahkan tidak lagi ada sekat-sekat pemisah.

Melalui saluran jarak jauh yang tidak lagi dihubungkan dengan kabel, membuat kehidupan manusia berubah sangat drastis. Dan kesadaran itu lahir, karena pada dasarnya manusia terus berkembang.. Melalui bahasa cinta, barangkali Valentine sebagai geliat budaya untuk membuka ajang perdamaian melalui ungkapan Kasih Sayang. Sebab bagaimanapun juga Valentine dalam perkembangannya dapat dijuluki sebagai Saint of Lovers.

Valentine’s Day, eksistensinya makin meluas. Bukan hanya melanda pada jiwa dan kebutuhan kawula muda, tetapi sudah merasuk pada sisi kehidupan secara massal. Terbukti, nilai kasih sayang itu tidak hanya tercipta dan untuk memperingati hari-hari istimewa saja. Melainkan, kasih sayang menjadi suatu dinamika dari kehidupan manusia yang sejak dulu hingga sekarang terus berkembang.

Saudara, sungguh suatu kebiasaan untuk kita ingin selalu membuktikan cinta kita pada orang yang mengasihi dan kita kasihi di hari Valentine, seperti kedua kelinci diatas.
Entah lewat hadiah, makan malam romantis, kata-kata cinta yang memabukkan, mawar merah 7 lusin, atau apa saja. Suatu kebiasaan yang membuat banyak orang juga kecewa dan merasa dirinya dilupakan bila Valentine berlalu dan ia ´tidak´ mendapat apa pun juga.

Sehingga seringkali aku justru lupa sebenarnya bahwa Valentine´s Day itu adalah hari biasa. Hanya sehari dalam setahun. Bukankah sebenarnya menyedihkan menunggu satu hari dalam setahun hanya untuk menyatakan dan mendapatkan pernyataan cinta kasih??? Bagaimana dengan 364 hari lainnya?

Kita dibiasakan untuk selalu ingat dan merayakan hari-hari khusus. Hari ultah, hari Natal, Tahun Baru, Imlek, hari Paskah, hari Valentine, hari pernikahan Papa dan Mama, hari Ibu...dll. Sudah menjadi kebiasaan untukku memberikan sesuatu dan mendapatkan (juga mengharapkan) sesuatu pada hari-hari khusus tersebut. Dan bila hari itu lewat begitu saja, kecewa menyapa begitu dalam.

Pertama-tama sungguh sulit. Tapi sekarang aku sudah mengerti.
Mengerti bahwa tidak perlu menunggu hari khusus untuk menyatakan cinta kasih kita. Karena dengan demikian, kita bisa mendapatkan hadiah yang luar biasa setiap hari.
Tidak harus berupa barang yang wah...

Bukankah mendapat kecupan selamat pagi disertai dengan senyum manis merupakan hadiah yang indah?
Dan, sepiring nasi goreng yang dibuat mama penuh sayang merupakan berkat?
Atau, pujian yang diberikan sahabat merupakan hal yang manis?

Kadang, hadiah Valentine yang sesungguhnya datang bukan berupa wanginya parfum yang kita dapatkan, atau romantisnya makan malam bersama kekasih..., melainkan berupa hal-hal kecil yang sudah menjadi kebiasaan, yang sebenarnya bagi banyak orang lainnya merupakan hal langka yang didambakan.

Tentu saja, merayakan hari Valentine bukan suatu hal yang salah. Apalagi bisa mendukung perekonomian, dari mendapatkan keuntungan finansial bagi para pedagang.

Tapi jangan sampai kita lupa bahwa setiap hari bisa menjadi hari Valentine, jika kita mau.

No comments: