Wednesday, February 28, 2007

Kegairahan Untuk Melayani

| II Korintus 11 :22-28

Pesan Paulus kepada jemaat di Korintus tentang penderitaannya mengandung dua hal penting. Pertama, Paulus benar-benar telah mengalami aniaya berat karena imannya. Kedua, ia tidak mau merengek mencari belas kasihan sebab sadar ini adalah harga yang harus dibayar untuk melayani Kristus. Dalam perjalanan iman kita, kita dapat belajar dari komitmen sang rasul ini.

Kita melayani berdasarkan panggilan Allah, bukan keinginan diri sendiri. Dalam Kisah Para Rasul 9:6 Allah memberitahu Paulus di jalan menuju Damsyik, "Di sana akan dikatakan kepadamu apa yang harus kauperbuat." Kita harus tekun mencari kehendak Tuhan, bukan memilih pelayanan yang kita rasa paling cocok untuk kita. Komitmen melakukan kehendak-Nya butuh keberanian yang akan sulit muncul bila kita membuat batasan-batasan untuk taat.

Kita melayani berdasarkan karunia, bukan talenta. Karunia adalah pemberian istimewa Allah kepada kita untuk melayani sesuai panggilan-Nya. Talenta memang berguna bagi pekerjaan Tuhan namun karunia akan membuat kita berhasil dalam pelayanan. Bukan keterampilan atau keahlian yang membuat Paulus menjadi pengkhotbah yang luar biasa. Bahkan ia mengakui tidak fasih berbicara dan riwayat hidupnya sia-sia belaka bila dibandingkan dengan pengenalan akan Kristus dan pelayanan bagi-Nya (Filipi 3:4-9).

Biarlah kita melayani dengan fokus pada Allah, bukan pada pelayanan itu sendiri. Namun sedihnya, di lubang inilah banyak orang Kristen jatuh. Mereka terperangkap dalam jadwal, tanggung jawab dan penghargaan yang membuat mereka kehilangan tujuan yang benar, yakni untuk menjangkau yang hilang dan terbuang. Luruskanlah kembali gairah pelayanan Anda, sehingga namanya dipermuliakan bukan Anda.

Doa Seorang Ibu

Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya : "Hai Ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kau kehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.(Matius 15: 28

Tahun 1978, bersama rombongan murid SMEAN Jombang, saya mengadakan karya wisata ke Banyuwangi dan Bali. Pada kesempatan itu kami bermain di pantai Kuta. Dalam kegembiraan, seorang teman terseret ombak. Saya berusaha mengejar dan sempat meraih tangannya, tetapi kekuatan ombak begitu besar sehingga saya ikut terseret masuk kedalam pusaran ombak.
Sempat beberapa menit saya tenggelam dan berkali-kali minum air laut, antara sadar dan tidak, yang terbayang dalam ingatan saat itu, saya ada dirumah di Jombang dan melihat ibu saya sedang merenung sedih, sepertinya sedang berdoa.
Seperti ada kekuatan yang menolong, saya merasakan dorongan yang besar menghempaskan saya kembali ke pantai; sedangkan teman saya sempat terseret ke tengah laut sekitar 500 meter dan sudah tidak sadarkan diri, namun akhirnya berhasil diselamatkan oleh turis Australia yang sedang berselancar.
Esoknya sesampainya di rumah, saya disambut oleh ibu saya dengan pertanyaan yang sungguh ajaib : "Kamu ada masalah apa? Apa kamu tertimpa musibah? Kemarin dada Mami berdebar-debar tidak karuan dan merasa kamu ada masalah, terus Mami berdoa minta pertolongan sama Tuhan agar kamu diselamatkan". Ya Tuhan, rupanya inilah kekuatan yang menyelamatkan saya dan teman saya, kekuatan doa seorang Ibu yang didengar oleh Tuhan. Kejadian ini membuat saya semakin mengasihi ibu saya dan tidak ingin menyakitinya.
Karena itu marilah kita bertanya pada diri kita: sebagai seorang anak, sudahkah kita mendengarkan nasihat Ibu kita, yang selalu ada dimanapun saat kita membutuhkannya? Sebagai seorang suami, sudahkah kita menghormati istri kita sebagai seorang Ibu yang berperan besar dalam membesarkan anak-anak kita ?
Sampai saat ini saya belum menemukan jawaban, bagaimana Ibu saya bisa ikut merasakan kejadian yang menimpa anaknya. Ini berkali-kali terjadi dan selalu benar. Yang saya tahu bahwa Tuhan akan selalu mendengarkan dan meluluskan doa seorang ibu yang penuh iman. Amin.

Tuesday, February 6, 2007

Pemuda Dan Krisis Zaman

Berapa banyak pemuda dan remaja yang sadar atau insyaf akan pentingnya masa ini? Menurut statistik, usia orang yang paling banyak bertobat dan kembali kepada Tuhan dapat dikategorikan dalam empat periode, dan periode yang terakhir adalah pada usia 18-19 tahun. Sesudah itu, sangat sedikit orang yang dijamah oleh kuasa Tuhan atau mempunyai hasrat untuk mencari Tuhan.

Di usia 17 tahun, seringkali seseorang masuk ke dalam situasi keraguan, skeptik dan tidak tahu mau mau kemana mengarahkan hidupnya, sehingga begitu banyak kesulitan dan pemberontakan yang timbul. Sesudah itu, pada usia 18-19 tahun, merupakan periode yang terakhir dimana anak muda akan memikirkan untuk mau kembali kepada Tuhan, sehingga ketika memasuki dunia universitas, ia akan terus mengejar kebenaran. Atau jika ia menolak, maka ia akan terjerumus ke dalam arus dunia ini. Oleh sebab itu, saya dengan serius berharap agar setiap orang bergumul dan berdoa untuk mendapatkan bijaksana surgawi untuk membentuk dan mengolah diri menjadi seorang pemuda yang bertanggung jawab kepada Tuhan dan menjadi berkat bagi zamannya.

Alkitab mengatakan kepada kita bahwa generasi demi generasi datang dan berlalu, tetapi bumi tidak berubah (Pkh. 1:4). Satu generasi datang dan satu generasi digeser, namun bumi ini tetap tidak mengalami perubahan. Kalimat ini memberikan suatu sifat relativitas, yaitu yang dapat berlalu dan yang masih ada. Siapakah saya? Apakah saya adalah tuan rumah dari bumi ini, ataukah saya hanya sekedar seorang tamu bagi bumi ini? Apakah saya yang menguasai bumi ini, atau saya yang akan dikuasai oleh bumi ini? Apakah saya yang akan menggeser zaman ini, ataukah zaman ini yang akan menggeser saya?

Mengapa ketika kita mempelajari sejarah, kita mempelajari tokoh-tokoh yang begitu hebat, yang begitu berpengaruh, yang pikirannya tidak luntur dan selama beribu-ribu tahun tetap memberikan pengajaran dan inspirasi kepada manusia. Mereka adalah orang-orang yang tidak digeser oleh zaman, tetapi mereka yang menggeser zaman. Meskipun tubuh mereka bisa mati, jasmani mereka dikuburkan, tetapi pikiran mereka terus mempengaruhi seluruh umat.
"Aku" dalam Zaman yang Kritis.

Di dalam setiap zaman, kita harus senantiasa dapat melihat kesempatan, krisis dan segala kemungkinan potensi dari zaman itu. Tuhan, tidak melahirkan kita di zaman yang sudah lalu dan Tuhan juga tidak melahirkan kita di zaman yang akan datang. Maka "aku" yang dilahirkan di dalam zaman ini, harus dikaitkan dengan zaman ini. Mengapa saya tidak dilahirkan 50 tahun yang lalu, atau dilahirkan 100 tahun yang akan datang? Mengapa saya bisa menjadi pemuda yang dilahirkan pada zaman ini? Pasti ada maksud Tuhan di balik semua itu.

Saya berharap dapat mengundang setiap pemuda dan remaja, bahkan setiap orang, untuk memikirkan secara serius pertanyaan: "Mengapa aku ada di sini ?" Mengapa saya dilahirkan di zaman ini; apa yang seharusnya saya lakukan di zaman ini dimana dengan mata kepala sendiri saya menyaksikan segala keadaan yang sedang mengelilingi saya?

Yesus Kristus menyinggung orang orang yang hidup di zaman-Nya dengan berkata, "Rupa langit kamu tahu membedakannya, tetapi tanda-tanda zaman tidak" (Mat. 16:3b). Melalui kalimat ini, Yesus ingin mengajak manusia untuk peka: mengapa ia ada dan hidup di dalam zaman itu, lalu kemudian berusaha mengerti tanda-tanda zaman di mana ia berada, apa saja krisis dan potensi yang terkandung di dalam zaman itu, dan apa tugasnya di dalam zaman itu.

Jikalau Saudara sudah mempunyai kepekaan seperti itu, saya jamin, di hari-hari berikutnya pasti Saudara tidak hidup secara sia-sia seperti pada waktu sebelum Saudara mengenal tanda zaman itu. Begitu banyak pemuda-pemudi yang dihanyutkan oleh zaman. Mereka tidak sadar. Mereka menganggap bahwa diri mereka sedang menikmati sesuatu, padahal mereka sedang memboroskan hidup, masa muda, kebebasan, kesempatan, dan potensi-potensi yang tidak mungkin terulang lagi di hari-hari yang akan datang. Setiap hari adalah hari yang sangat berharga, setiap tahun adalah tahun yang sangat berharga. Itu merupakan hari hari yang indah dan yang tidak terulang lagi. Setiap tahun adalah tahun yang tidak akan terulang lagi dan tidak akan kembali. Waktu dan hidup kita hanya dapat berjalan maju, tanpa bisa mundur kembali. Waktu-waktu dan hidup kita merupakan harta milik, properti yang paling penting di dalam hidup jasmaniah kita.

Waktu kita, merupakan properti, yang ketika kita gunakan, atau tidak gunakan, ia akan berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Maka kini, Saudara perlu sungguh-sungguh mengerti dan memanfaatkannya dengan baik. Untuk itu diperlukan kepekaan yang luar biasa. Kita berada di dalam waktu dan kita dicipta dalam kurun waktu.

Diambil dengan seijin penerbit dari buku karya Pdt. Dr. Stephen Tong, Pemuda dan Krisis Zaman, hal. 1-4. Buku ini diterbitkan oleh STEMI dan LRII, 1996.

Thursday, February 1, 2007

Valentine tiap hari???

Sebentar lagi Valentine. Hari yang sangat ditunggu oleh banyak sekali orang. Minggu – minggu ini, suasana valentine sudah sangat terasa. Kemanapun aku jalan, pasti bisa ngerasain dan nemuin pernak pernik berbau Valentine. Masuk ketoko apapun, pasti ada warna Valentine.

Toko coklat menawarkan segala macam coklat yang dikemas dengan cantiknya dengan ´bau´ Valentine. Toko pakaian memajang segala macam pakaian dengan warna-warna yang lembut, manis, dietalasenya. Toko parfum memberikan discount dengan pelayanan bungkus kado yang sangat apik dan membuat orang tertarik membelinya. Toko musik berkali-kali dalam sehari memasang lagu yang bertema cinta. Tapi toko yang aku paling suka masuki adalah toko buku. Terutama pada hari-hari special.

Disimak dari sejarahnya, menurut pandangan Teologis. Valentine’s Day sebenarnya lahir di kota Roma. Awalnya, ketika musim tanam tiba, diadakan perayaan untuk mengungkapkan ucapan syukur kepada Sang Pencipta. Secara budaya – komunitas masyarakat yang agraris itulah yang memulai hingga akhirnya kebiasaan tersebut menjadi awal dari ide di gelarnya festival. Ternyata perayaan tersebut, memperoleh sambutan yang cukup luas.

Sebenarnya komunitas yang terjadi pada waktu itu, lebih didasari pada ungkapan syukur pada alam semesta. Adapun simbol ucapan syukur itu ditujukan pada dewa-dewi yang telah memberinya kehidupan yang membahagiakan. Namun, nilai-nilai itu kemudian terkikis dengan berkembangnya agama Kristen.

Valentine adalah sebuah nama. Secara simbolis Valentine dijuluki sebagai ”Saint”. Dengan nuansa yang lebih agamis, untuk mengagungkan cinta dan mengungkapkannya tidak hanya pada kehidupan alam semesta saja. Melainkan, keberadaan manusia jauh lebih penting dan pada sang pencipta sajalah – mutlak hal itu ditujukan. Jadi bukan pada dewa- dewi.

Di kalangan bangsawan Eropa hari Valentine menjadi hal yang rutin dirayakan lewat pesta-pesta dan pemberian hadiah yang sifatnya pribadi. Penyair Inggris yang sangat terkenalpun Geoffrey Chaucher ikut simpati untuk menyatakan valentine sebagai hari cinta yang sejati yang dilambangkan sebagai burung merpati.
Baru pada di akhir abad 19, kartu Valentine dan bunga diproduksi secara massal dan menjadi simbol hari Kasih Sayang. Hingga sekarang, perkembangan itu semakin meluas dan tidak dapat dibendung oleh waktu dan perjalanan zaman. Kasih bagi kehidupan manusia adalah sumber yang harus dipancarkan. Tanpa Kasih manusia akan kehilangan segala akal dan budi. Secara kodrati dan imani, pada dasarnya manusia sangat membutuhkan Kasih Sayang sejak di kandungan ibunya. Hingga ia dewasa – pelukan Kasih Sayang tidak bisa dilepaskan dari kandungan ibu pertiwi, sehingga melahirkan komunitas baru yang dapat menghubungkan antar benua, negara, bangsa, suku, agama dan warna kulit serta perbedaan latar belakang budaya.

Manusia dilahirkan untuk mencipta dan memperbaharui kehidupan yang lama menjadi baru. Dan proses pencerahan itu, sangat bertalian erat dengan nilai-nilai teologis. Karena buah dari Kasih Sayang itu – meliputi batas empati kemanusiaan yang tidak dapat diukur dengan apapun. Hanya dengan getaran suara hati nurani, nilai persahabatan itu dapat terwujud dan dinyatakan. Mewakili akan hal itu, bahasa cinta mempunyai kandungan kasih yang sangat dalam.

Di tanah air, perayaan Valentine’s Day mengundang banyak keraguan di kalangan masyarakat. Keraguan itu dikarenakan Valentine datangnya dari negara asing. Sementara, perkembangan tehnologi melesat begitu jauh dan meluncur ke depan bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya.. Sedangkan batasan tembok transformasi budaya sangat tipis dan bahkan tidak lagi ada sekat-sekat pemisah.

Melalui saluran jarak jauh yang tidak lagi dihubungkan dengan kabel, membuat kehidupan manusia berubah sangat drastis. Dan kesadaran itu lahir, karena pada dasarnya manusia terus berkembang.. Melalui bahasa cinta, barangkali Valentine sebagai geliat budaya untuk membuka ajang perdamaian melalui ungkapan Kasih Sayang. Sebab bagaimanapun juga Valentine dalam perkembangannya dapat dijuluki sebagai Saint of Lovers.

Valentine’s Day, eksistensinya makin meluas. Bukan hanya melanda pada jiwa dan kebutuhan kawula muda, tetapi sudah merasuk pada sisi kehidupan secara massal. Terbukti, nilai kasih sayang itu tidak hanya tercipta dan untuk memperingati hari-hari istimewa saja. Melainkan, kasih sayang menjadi suatu dinamika dari kehidupan manusia yang sejak dulu hingga sekarang terus berkembang.

Saudara, sungguh suatu kebiasaan untuk kita ingin selalu membuktikan cinta kita pada orang yang mengasihi dan kita kasihi di hari Valentine, seperti kedua kelinci diatas.
Entah lewat hadiah, makan malam romantis, kata-kata cinta yang memabukkan, mawar merah 7 lusin, atau apa saja. Suatu kebiasaan yang membuat banyak orang juga kecewa dan merasa dirinya dilupakan bila Valentine berlalu dan ia ´tidak´ mendapat apa pun juga.

Sehingga seringkali aku justru lupa sebenarnya bahwa Valentine´s Day itu adalah hari biasa. Hanya sehari dalam setahun. Bukankah sebenarnya menyedihkan menunggu satu hari dalam setahun hanya untuk menyatakan dan mendapatkan pernyataan cinta kasih??? Bagaimana dengan 364 hari lainnya?

Kita dibiasakan untuk selalu ingat dan merayakan hari-hari khusus. Hari ultah, hari Natal, Tahun Baru, Imlek, hari Paskah, hari Valentine, hari pernikahan Papa dan Mama, hari Ibu...dll. Sudah menjadi kebiasaan untukku memberikan sesuatu dan mendapatkan (juga mengharapkan) sesuatu pada hari-hari khusus tersebut. Dan bila hari itu lewat begitu saja, kecewa menyapa begitu dalam.

Pertama-tama sungguh sulit. Tapi sekarang aku sudah mengerti.
Mengerti bahwa tidak perlu menunggu hari khusus untuk menyatakan cinta kasih kita. Karena dengan demikian, kita bisa mendapatkan hadiah yang luar biasa setiap hari.
Tidak harus berupa barang yang wah...

Bukankah mendapat kecupan selamat pagi disertai dengan senyum manis merupakan hadiah yang indah?
Dan, sepiring nasi goreng yang dibuat mama penuh sayang merupakan berkat?
Atau, pujian yang diberikan sahabat merupakan hal yang manis?

Kadang, hadiah Valentine yang sesungguhnya datang bukan berupa wanginya parfum yang kita dapatkan, atau romantisnya makan malam bersama kekasih..., melainkan berupa hal-hal kecil yang sudah menjadi kebiasaan, yang sebenarnya bagi banyak orang lainnya merupakan hal langka yang didambakan.

Tentu saja, merayakan hari Valentine bukan suatu hal yang salah. Apalagi bisa mendukung perekonomian, dari mendapatkan keuntungan finansial bagi para pedagang.

Tapi jangan sampai kita lupa bahwa setiap hari bisa menjadi hari Valentine, jika kita mau.